Halusinasi Simbol Agama?

cirebon, suraupos.com

Pandangan manusia sering kali pincang saat melihat kehidupan yang tidak sesuai dengan pemikirannya. Mereka cenderung tidak akan menerima kehidupan yang buruk itu, padahal itulah kenyataan hidup. Kehidupan di bumi memliki dua kebudayaan, yakni kebudayaan negatif dan positif, dan manusia harus bisa menerima kedua kebudayaan itu. Kenapa? karena itu sudah menjadi kenyataan hidup. Dan itulah sikap keberagaman hidup manusia, tidak menegasikan kehidupan lain. Terkadang manusia kalau sudah berilmu, berpengetahuan, merasa dirinya sudah pintar, dan dirinya merasa berhak mengklaim kebenaran itu, padahal itu sikap menuju kebodohan. Dan kebodohan itu kehancuran agama. Agama hancur karena penghuni agama itu bodoh dan tak berbudi.

Disinilah peran etika, menjadi manusia yang berbudi. Budi kalau mengutip perkataan Soktrates artinya tahu, dan itulah inti sari dari etika. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik dan tidak akan melakukan kejahatan, dan orang yang melakukan kejahatan berarti orang itu tidak tahu, tidak berbudi, dan tak ada orang yang sengaja atas kemauannya sendiri melakukan jahat. Budi dan tahu keduanya saling bersangkut-paut. Manusia yang tahu, yang ber-budi, dalam mind set (sikap kejiwaan) akan menemukan kejelasan dari berbagai macam posisi keberagaman hidup, bernegara maupun beragama.

Misal, orang jawa melakukan agama dan sikapnya dengan kejawaannya, Orang Aceh menjalankan kehidupan agamanya dengan bentuk aturan Islam di Aceh, manusia Islam pesisir menjalankan agama tidak sama dengan Islam daratan misalnya dan banyak bentuk-bentuk lainnya. Kalau kita tidak menyadari hal semacam ini, kita hanya akan mempertahankan kebenaran-kebenaran dirinya atau atas nama golongan, dan kita akan terjebak dalam kekeraan, menjadi manusia garis keras (radikalisme) yang terus bergerak dalam bentuk permukaan agama, tanpa mau mengerti subtansi atau isi ajaran agama Islam itu sendiri. Kalau sikap kita seperti ini, agama Islam menjadi keras, dan Islam bukan lagi menjadi agama yang hanif lagi. Orang yang berbudi atau berpengetahuan akan selalu mencari pengertian dan kejelasan dalam hidup beragama.

Sesuai dawuh nabi Muhammad saw, bahwa manusia harus terus belajar sampai akhir hidupnya. Nah, manusia yang terus belajarlah yang akan mampu melihat keutuhan dalam beragama (melihat Islam secara utuh). Kalau sikap kita memutlakkan satu kebenaran dalam diri seseorang atau golongan, maka akan menyisihkan bentuk kehidupan yang beragam. Pandangan seperti ini memang berbeda dengan sebagian masyarakat yang sering “mengklaim” kebenaran atas satu kelompok atau golongan, entah itu berbentuk kebaikan atau kejelekan. Sama halnya seperti melihat hewan, manusia yang melihat ekornya hewan akan menyuarakan bahwa hewan itu seperti ekor, manusia yang melihat kakinya akan mengekpresikan seperti kaki tadi, manusia yang melihat telinganya juga begitu, dan itu belum bisa menyebut hewan secara utuh.

Hal ini telah menunjukkan bahwa minimnya kebiasaan kita untuk berpikir dan memahami ajaran Islam, sehingga membuat beberapa kalangan masyarakat menjadi keras dan kaku dalam menjalani hidup ini. Dan bisa jadi manusia akan tampil dalam permukaan itu hanya manusia yang tegak lurus dan kaku seperti patung tanpa bisa melihat kehidupan sekitarnya. Dampaknya, mereka mudah terbawa arus maentrem, gampang menyalahkan, mengkafirkan, bahkan memurtadkan orang-orang yang berbeda dalam berpikir apalagi berbeda keyakinan. Orang yang seperti ini akan tertipu dalam bentuk agama tanpa pernah menyentuh isi dari bentuk agama itu, mereka hanya tahu ajaran Islam tapi tidak mengerti ajaran Islam itu. Mereka hanya bisa menggunakan jargon ke-Islaman untuk memperluas kelompoknya seperti jargon amar ma’ruf nahi munkar, tegakkan agama Islam, Allahu akbar, dan lainnya. Jargon semacam ini sering digunakan dalam memperjuangkan simbol keagamaan untuk membela Islam yang sebenarnya, mereka sedang melakukan rekayasa untuk mencari simpati masyarakat Islam lainnya. Akhirnya banyak masyarakat mudah terpesona dan merasa takjub dengan simbol-simbol keagamaan itu.

Padahal kalau masyarakat kita ingin berpikir secara jernih, sebenarnya simbol Islam yang mana yang harus diperjuangkan? Dan apakah benar itu simbol Islam?

Memang, beragama itu merupakan laku spiritual manusia untuk melaksanakan amal-amal saleh, supaya kehidupan ini berjalan secara baik. Bagaimana bentuk kesalehan dalam beramal itu? Kita harus sadar akan posisi hidup kita ini, kita berbudaya seperti apa, bernegara seperti apa, beragama seperti apa, itu harus kita sadari semuanya.

Sebagian besar masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang beragama dan berbudaya. Maka itu beragamalah dengan kebudayaan, dan agama itu sumber dari kebudayaan, dalam artian agama akan tetap eksis kalau masyarakat yang beragama menjalankan budayanya tanpa mengesampingkannya. Karena keduanya menjadi satu kesatuan dalam pemahaman kita, kalau tidak, agama di Indonesia tidak mungkin berkembang sampai saat ini. Bagaimana Islam, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu bisa bertahan dan bersanding dengan kehidupan kita? Itu karena agama di letakkan dalam ranah budaya bukan ranah doktriner. Jika kita menempatkan agama dalam ranah doktrin atau dogmatis tidak akan ketemu justru malah ketegangan yang dimunculkan dalam setiap kelompok atau individu.    

Dari pemahaman itu yang perlu dijaga yakni tentang agama yang melekat dalam kebudayaan itu. Agama tidak akan berkembang tanpa menjalankan nilai-nilai kebudayaan. Maka itu, agama di setiap wilayah akan memiliki bentuk dan model yang berbeda-beda sesuai kebudayaan masing-masing dan ini berpengaruh terhadap pola pikir dan prilaku masyarakat kita. Manusia arab tidak akan sama beragamanya dengan manusia Nusantara, begitu juga manusia Barat tidak akan sama menjalankan agama dengan manusia Timur. Kalau seperti itu kita akan mengerti bagaimana seharusnya kita beragama dengan baik.

Pertama, adalah memahami agama dalam bentuk aturan yang baik dengan mengenali nilai-nilai kebudayaan setempat. Ketika memposisikan diri kita sebagai manusia beragaman yang bertradisi dan berbudaya, maka kita akan memposisikan diri sesuai aturan setempat.

Kedua, mengerti esensi atau isi dalam ajaran agama itu, tidak hanya bentuk yang dilihat tetapi isinya juga. Ada kebaikan yang dilakukan orang beragama Sunda (sebelum Islam) di Jawa Barat dengan perilaku dan sikap santun terhadap semua ciptaan Sang Esa dan justru ada kekerasan yang dilakukan oleh orang beragama Islam misalnya, lalu siapakah yang menjalankan esensi dari beragama tadi, orang beragama Islam atau orang beragama Sunda? Jadi kita harus mengenalinya secara hanif dan bijak dalam Bergama itu.

Ketiga, berahlak atau memiliki moralitas yang teguh dalam menjaga semua agama yang ada. Sulitkah?. intaha     

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *