Covid-19 Panggung Siapa?

Cirebon, suraupos.com

Hadirnya pandemi virus Covid 19 membawa dampak perubahan dalam siklus kehidupan manusia. Pola hidup, gaya berkomunikasi, dan tatanan sosial di semua negara mengalami banyak tantangan, terutama di negara Indonesia. Semua tidak ada hal yang tidak mungkin untuk merubah kebudayaan manusia, dalam kondisi saat ini apapun bisa terjadi. Semua masyarakat berada di posisi simalakama, berdiam diri bisa bunuh diri dan kalau beraktivitas diluar pun akan terbunuh juga. Pada akhirnya manusia akan terbunuh oleh eksistensi virus, semakin banyak yang terbunuh semakim eksis keberadaan virusnya.
Melihat kondisi ini, begitu sulit bagi warga indonesia dalam memutuskan sikapnya. Contoh yang sederhana seperti anjuran memakai masker, mencuci tangan dan jaga jarak masih belum di sadari oleh semua lapisan masyarakat, kenapa? Karena hal itu terbentur dengan kebudayaan masyarakat kita yang menguataman kebersamaan, dengan slogan” makan gak makan asal kumpul”. Jadi ketika ada anjuran memakai masker, jaga jarak, dan di rumah aja, masyarakat merespon dengan lambat, sebab dianggap bukan budayanya yang setiap kegiatan sehari-hari harus tutup mulut, cuci tangan dan jaga jarak. Kuatnya budaya indonesia yang saling sapa dan ramah sulit dirubah dengan begitu saja, misal bertemu orang tidak menyapa dan bersalaman akan terasa canggung, merasa tidak enak, apalagi jaraknya harus terpisah. Kuatnya budaya kumpul, berbaur, silaturahmi di indonesia akan mengalahkan bentuk aturan yang menghalanginya. Sikap ini, bukan sikap anti aturan atau tidak mentaati peraturan pemerintah, tapi perlu proses kesadaran untuk melakukan hal itu, masyarakat harus memulai kebiasaan setiap habis aktifitas harus mencuci tangan, jaga kebersihan dari polusi udara dengan memakai masker, baru menjaga jarak dengan manusia dengan baik dan santun. Namun selagi ruang publik masih tetap terbuka lebar, maka semakin kuat keyakinan masyarakat akan keberadaan virus ini biasa saja, dan tidak mematikan, bahkan progam pemangkasan penyebaran virus pun akan terabaikan.
Tiga proses pemangkas penyebaran virus ini akan banyak diabaikan oleh masyarakat karena, pertama ruang publik masih terbuka lebar bagi masyarakat untuk berinteraksi. Ruang publik menjadi ukuran masyarakat, ketika tidak ada apa- apa, maka masyarakat akan beranggapan kondisinya masih aman dan biasa saja, sebab kegiatan dan aktifitas di ruang publik masih berjalan normal. Kedua, banyak benturan ditengah pergumulannya, bergesekan dengan budaya, sosial bahkan dengan agama. Namun usaha anjuran pemerintah bisa tersampaikan melalui tangan tokoh-tokoh agama untuk mengkampanyekan memakai masker, cuci tangan, jaga jarak dan tetap dirumah memang sangat diperlukan, dengan alasan untuk memutus rantai penyebaran virus itu. Tokoh agama salah satu agen kebudayaan yang bisa menyeselaikan gesekan dalam ranah kebudayaan, dan meminimalisir gerak kerumunan masyarakat dirung publik. Dengan bahasa ketokohannya, terkadang masyarakat lebih mempercayai ketimbang bahasa langsung pemerintah, sebab tokoh agama itu pelaku kebudayaan sekaligus kebudayaan itu sendiri. Ketiga, masih adanya kelonggaran dalam penanganannya, mata rantai dari pasien tidak pernah terlacak sampai akarnya. Penangan di lapangan, orang yang sudah ODP mash tetap berkerumun dan pergi kemanan-mana. Dan batas zona merah belum ada pengetatan dalam keluar masuknya kendaraan atau orang. Jangan sampai pengorbanan masyarakat yang sudah mematuhi dan berdiam di rumah, tidak bekerja atau beraktivitas diluar menjadi sia-sia karena setengah hati dalam penangananya.

Kemanusiaan atau politik?
Dari sini Presiden Jokowi berada di atas panggung pandemi untuk di uji kebijakan atas kondisi bangsa saat ini. Dengan pertimbangan ekonomi, kesehatan dan keselamatan manusia. Sebuah keputusan yang sulit bagi presiden, namun kebijakan seorang presiden pasti akan memutuskan hal yang terbaik untuk negaranya. Saya pikir, sangat tepat dalam kondisi seperti ini, Jokowi memfokuskan garapan pemerintah pada arus ekonomi dan kesehatan, kanapa? Kesehatan dan ekonomi adalah modal utama kehidupan manusia. Dengan kesehatan, manusia bisa menjalankan perekonomian, bisnis, berdagang, bekerja, produksi dan begitu juga sebaliknya perekonomian yang kuat bisa mensejahterahkan kehidupan manusia. Jadi, salah satunya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia.
Garapan yang berat bagi presiden, bagaimana ekonomi dan kesehatan manusia tidak dilumpuhkan oleh keadaan seperti ini? Jika semua kebutuhan manusia di tanggung oleh negara, maka Ekonomi negara akan rapuh dan hanjur, kenapa? Sebab Indonesia memiliki jutaan jiwa penduduk. Jika pak presiden menjalankan Lokcdown atau batas wilayah dan negara menanggung kehidupan warga jjakarta saja misalnya, itu bisa menghabiskan dana sekitar 500miliar untuk dikeluarkan. Lalu bagaimana daerah-daerah lainnya, kepulauan lainnya. Maka yang harus di cari adalah solusinya, bagaimana ekonomi tetap berjalan dan kesehatan tetap terjamin. Sebab lock down atau batas wilayah bukanlah solusi cerdas sebab tidak memberikan solusi bagi seluruh lapisan masyarakat. Ini pentingnya mengutamakan sisi kemanusiaan dari pada kepentingan pribadinya. Sebab, ada nilai kemanusian yang harus diperjuangkan dalam pandemi Covid 19 ini, yakni kehidupan manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *