The Problem of Philosophy

The Problems of Philosophy

Mohammad alBony

Appearance dan realitas

Pertama yang di bahas B. Russell adalah masalah ontology, cabang dari epistemology tentang appearance dan realitas. Dengan pertanyaan adakah pengetahuan di dunia ini yang begitu pasti sehingga tidak ada manusia berakal dapat meragukannya? Pertanyaan ini sebagai awal untuk melihat realitas sebenarnya. Kebanyakan orang tidak memisahkan pemahaman terhadap sesuatu sebagai appearance atau reality. Dalam ruang ontologi appearance menjadi sesuatu yang dapat kita indra dan seakan-akan sesuatu itu kita asumsikan sebagai realitas yang muncul di depan indra kita, padahal belum tentu seperti mawar merah, apakah kita benar-benar melihat mawar merah atau benda sekitar kita? Dari sini muncul pertanyaan apakah semua yang kita lihat hanya sebuah appearance (sesuatu yang muncul) atau realitas? Jika semuanya appearance lalu dimana realitas itu, apakah sesuatu yang terlihat atau sesuatu yang ada di dalamnya adalah realitas itu? Jika sesuatu yang kita indra, di persepsi dalam pikiran, merupakan sebuah realitas dan mungkinkah ada dua realitas dalam satu benda ? jika tidak, apa realitas sebenarnya, dalam ruang ide atau bentuk materi?

Sudah terlihat bahwa dalam menemukan bentuk murni atau sebenarnya dari sesuatu itu tidak sama dengan yang kita ketahui melalui indra. Dari sini Russell memakai istilah sense-data sebagai bentuk yang segera di ketahui dan sensation untuk pengalaman dari segera menyadari segala hal ini. Russell menyebut sesuatu yang sebenarnya dengan istilah objek materi jika itu benar-benar ada. Dari sini relasi data-indra dengan objek-objek fisik harus kita pertimbangkan sebab kita tidak akan bisa menghindari penglihatan kita terhadap objek materi itu. Dengan penglihatan ini bagaimana kita meyakinkan pengetahuan kita terhadap objek materi itu. Adakah pengetahuan kita yang pasti dan tidak di ragukan dan kita mendapatkan pengetahuan yang sebenarnya dari pencarian akan kebenaran, misal warna yang menempel pada benda (meja, baju, kursi, dan lainnya) ketika kita melihat benda itu, apa yang terekam dalam pikiran kita benda, warna atau gambaran lainnya. Dan warna atau benda lainnya yang sudah menjadi data-indra apakah bergantung pada sesuatu atau tidak? Dalam pembuktian ini eksistensi warna yang dapat kita pahami tetapi kita tidak mampu membuktikan warna itu sendiri. Dengan kata lain, kita memiliki asumsi bahwa ada pemahaman di dalam warna itu yang kita tidak mengetahuinya. Apakah ada ciri- ciri khusus dari benda itu selain warna dan gambaran lainya, sehingga kita mampu menjelaskan bahwa realitas benda itu adalah sesuatu yang berada di dalam data-indra itu? Apakah hal ini dapat dibenarkan? Hal ini sangat sulit untuk membuktikannya tetapi kita harus menyadari akan realitas benda itu yang terekam dalam bentuk ide maupun yang terlihat oleh indra.

Persoalannya kita tidak bisa mengatakan bahwa benda itu merupakan data-indra atau data-indra itu secara langsung menjadi sifat dari benda itu. Dari sini kita harus mempertimbangkan relasi data-indra dengan objek fisik, mungkinkah objek fisik (the real) ini tidak bergantung pada diri kita? Seperti ada suatu benda yang tidak dapat kita lihat yaitu sesuatu yang ada di dalam benda yang terindra, meja warna kuning misalnya. Hal yang terindra adalah warna kuning dan bentuk meja, tetapi kita tidak dapat mengindra sesuatu di dalam warna itu atau didalam bentuk meja itu. Dalam bukunya ‘The Problem Philosopy’ B. Russell mempertanyakan sebuah materi yang merupakan kumpulan dari objek-objek  fisik, adakah materi itu, jika ada apa hakikatnya? Akan kita pahami materi sebagai sesuatu yang berlawanan dengan pikiran. Dari sini ada pemahaman Uskup Berkeley yang menganggapbahwa objek segera indra kita tidak eksis dan tidak bergantung pada kita (Hyle: Materi, Morphisme: Bentuk). Berkeley ini mencoba memahami materi dari aras idealisnya dengan menyebutnya ‘pikiran Tuhan’. Jadi materi atau dunia terdiri atas pikiran dan ide-ide belaka. Sedangkan sisi lain Leibniz menyatakan bahwa materi itu berada dari kumpulan koloni jiwa (monad). Eksiskah materi itu? Jika eksis dimana eksistensi materi itu?

Eksistensi Materi

Untuk melihat eksistensi kita perlu metode keraguan yang dipahami Descartes ‘Cogito Ergo Sum’  I think, therefore I am. Pernyataan ini memberikan asumsi bahwa ‘think’ memberikan pemahaman akan ‘I’ sebagai objek yang menyadari adanya. Sebelum ‘Ada’ kita berfikir akan diri kita baru kita merasakan adanya diri kita. Jadi thing- I- therefore I am, dengan merasa ragu kita menjadi eksis.

Data-indra – diyakini sebagai hal yang eksis di dalam diri kita, dengan alasan mampu memberikan kita untuk berfikir. Sedangkan yang objek fisik sangat diragukan dengan alasan tidak memberikan dampak pada kita. Sehingga jika hal ini terjadi kita akan hidup sendirian karena meragukan eksistensi di luar diri kita.  

Jika hal ini yang diyakini, apakah kita mampu memberikan bukti akan keraguan di luar data-indra kita dan bagaimana data-indra ini membuktikan keraguan objek fisik? Jika mampu adakah sesuatu yang independen tanpa ada ketergantungan? Seperti semua data-indra yang masuk ke dalam diri kita dan disimpan untuk melihat objek fisik yang lain, samakah data-indra yang awal dengan data-indra selanjutnya atau objek yang sama untuk orang berbeda? Mungkinkah ada objek netral? Dari sini pertarungan kaum idealism dan empirisme.

Hakikat Materi

Apakah hakikat sesuatu yang tetap bertahan tanpa bergantung pada persepsi saya tentang sesuatu tersebut? Ruang menjadi pemahaman kita untuk melihat hakikat dari sesuatu yang kita lihat.  Objek fisik sebagai penyebab sensasi kita yang berbeda dengan data-indra. Kita mendapatkan sensasi peraba ketika bersentuhan dengan objek. Ini artinya ada sebuah keterkaitan antara ruang penngetahuan dan yang kita lihat atau rasakan seperti kita melihat uang logam. (relasi)

Idealisme

Kata ‘idealisme’ di gunakan oleh para filsuf dengan pengertian yang berbeda-beda. Perbedaan idealisme Spinoza dengan Berkeley adalah ketika melihat sesuatu dengan persepsi pikiran Tuhan. Bagi Spinoza semuanya di persepsi oleh pikiran Tuhan dan tidak ada aktualisasi oleh ide manusia, Berkeley sebaliknya bahwa manusia masih memiliki peran.

Berkeley mambangun idealisme dengan dasar teori-teori pengetahuan. Menurutnya data-indra kita tidak memiliki suatu eksistensi di luar diri kita, setidaknya sebagian berada di dalam pikiran. Sehingga data-indra menjadi eksistensi persepsi yang menyakinkan pengetahuan diri kita yang berada ‘di dalam pikiran’. Dan data-indra bergantung pada kita selagi sesuatu itu sedang dipersepsi, jika tidak maka sesuatu itu tidak akan eksis. Dari sini kaum idealisme menyimpulkan ‘tidak ada sesuatu yang dapat diketahui kecuali sesuatu yang berada di dalam pikiran’ baik dalam diri kita atau pikiran orang lain. Bagaimana kita meyakini bahwa ide kita sesuai dengan ide di dalam pikiran orang lain? Ini perlu pemahaman akan ‘ide’. menurut Berkeley ide adalah segala sesuatu yang segera di ketahui. Artinya ide kita akan eksis selagi pikiran Tuhan masih tetap mempersepsinya. Jadi, bagi Berkeley ide manusia hanya menjadi bagian dari pikiran Tuhan. Argumen ini di pahami oleh B. Russell sebagai sifat yang ambigu sebab kita berfikir secara hakiki tentang ide yang berada di dalam pikiran seseorang. Dengan merujuk pemahaman ide yang bersatu dalam objek luar, yang oleh Berkeley tidak dipisahkan antara objek kesadaran dengan objek tindakan mental untuk memahami, artinya benda yang dipahami dengan tindakan pemahaman tidak dibedakan, seperti pohon berada di dalam pikiran  jika kita mengetahuinya (di pahami), sebenarnya pemikiran tentang pohon itu (tindakan pemahaman). Sebab bisakah kita membuktikan sesuatu yang di pahami bersifat mental, seperti pembuktian bahwa warna bersifat mental? Argument yang terjadi hanya membuktikan warna tergantung paada relasi organ-indra kita terhadap objek fisik. Dari sini Russell menghantam Berkeley dari akarnya yakni ‘ide’ yang oleh Berkeley tidak dibedakan dari dunia fisik. Maka idealis Berekeley runtuh oleh pemahaman Russell.

Pengetahuan Melalui Pengenalan dan Deskripsi

Memahami objek sebagai hal yang dipahami dengan tindakan pemahaman, ini semua di sebut ‘ide’. Permasalahannya adalah ada suatu benda yang eksis tapi kita tidak mengetahui. Kata ‘tahu’ ini yang menjadi persoalan yang perlu kita jelaskan untuk keberlanjutan  dari ‘ide’. Ada dua pengertian dari kata tahu, pertama penilaian yang di gambarkan sebagai pengetahuan tentang kebenaran. Kedua, pengenalan yang menggambarkan pengetahuan kita tentang segala sesuatunya.

Kedua pengetahuan di atas harus kita perjelas dalam mengetahui kebenaran benda apa adanya. Artinya mengenal benda tanpa ada perantara dari segala penyimpulan atau pengetahuan tentang kebenaran. Dari pengetahuan ini, deskripsi muncul sebagai hal yang mampu mengklasifikasi sesuatu dalam memahami sebuah benda apa adanya. Pengetahuan deskripsi memberikan penjelasan yang luas terhadap pengetahuan yang sudah ada. Pengetahuan deskripsi terjadi di alam mental bukan dalam bentuk benda, artinya ketika kita melihat pohon secara langsung, data-indra yang masuk melalui sense dan berada di pikiran sehingga terjadi pendeskripsian terhadap data-indra pohon itu.   

Induksi

Penjelasan Russell sebelumnya yang penting adalah epistemology bagaimana sense-data indra bisa masuk di pikiran kita dan menjadi suatu pengetahuan. Dalam bab sebelumnya kita memahami sebuah pengetahuan secara pengenalan dan deskripsi dan semuanya itu tidak lepas dari prinsip induktif. Pengetahuan yang masuk dalam data indra merupakan pengetahuan awal dalam melihat sesuatu dan pengetahuan itu di deskripsikan di dalam pikiran. Dalam proses deskripsi ini hanya data-data particular yang di deskripsikan untuk melihat akan keberadaan benda itu. Artinya dalam proses pengetahuan kita, berawal dari data pengenalan dan hanya sekedar tahu akan bentuk benda itu dan pendeskripsikan itu hanya bisa di lakukan dalam ruang pikiran.

Dari pengetahuan yang seperti ini dan menjadi suatu kebiasaan yang telah di pastikan. Berawal dari kebiasaan sehari-hari ini, data-data pertikular menjadi satu keyakinan kita akan hukum yang akan terjadi selanjutnya, tetapi bagaimana kita membuktikan bahwa kebiasaan yang membentuk pengalaman akan hukum itu mampu membuktikan hukum selanjutnya, matahari terbit dari timur misalnya. Bagaimana kita meyakini bahwa dengan pengalaman sehari-hari mampu membuktikan matahari akan terbit dari timur? Hal ini bisa juga tidak terjadi jika kita menemukan kegagalan pada hukum itu dan matahari tidak akan terbit dari timur. Jadi pengalaman tidak akan bisa menyanggah akan adanya prinsip induktif dan pengalaman tidak bisa membuktikannya.

Yang menjadi diskusi kita adalah bagaimana Russell melihat ada sebuah relasi dari satu benda ke benda lainya. Sebenarnya hal ini sudah di terapkan oleh David Hume yang memasang dasar relasi ini dan Russell hanya memberikan dalam ruang yang lebih kosong. Menurut Hume adanya satu titik belum tentu memberikan satu titik yang pasti dan masih ada kemungkinan-kemungkinan akan adanya titik yang lain, missal A menjadikan adanya B. hal ini di bantah oleh Hume dan Russell yang menurutnya adalah tidak adanya eksistensi A setelah B , justru yang terjadi adalah relasi antara eksistensi A dan belum tentu B, bisa B1, B2 dan seterusnya, dan juga bukan hukum sebab akibat, sebab hukum kausalitas (sebab-akibat) hanya memiliki satu ketentuan dan terbatas. Dalam pembahasan kautsalitas ini sangat luas dan dengan prinsip ini kita bisa memberikan bukti-bukti dan sanggahan akan adanya Tuhan, tetapi pertanyaan yang menarik adalah mengapa kita harus membahas akan keberadaan Tuhan ini? Hal ini yang memberikan pemahaman akan kebiasaan yang tidak bisa kita pastikan akan terjadi hal yang sama antara pengalaman masa lalu dan masa depan. Akan tetapi pengalaman ini hanya memberikan informasi akan adanya prinsip induktif. Artinya dengan pengalaman kita bisa melihat peristiwa particular sebagai data dalam penggunaan prinsip induktif walaupun pengalaman ini menjadi penyebab akan keyakinan masa depan tetapi pengalaman ini tidak dapat membuktikan prinsip induksi. Dalam hal ini Russell memahami prinsip induksi lebih kuat dan pengalaman hanya menginformasikan hal-hal partikularnya tapi tidak bisa membuktikannya dan dalam pengambilannya harus hati-hati.

Rasionalis dan empiris menjadi pembahasan Russell selanjutnya untuk membuktian metode induksi dan prinsip-prinsip umum yang di sebabkan oleh pengalaman dan a priori. Madzhab empiris di wakili oleh filosof Inggris seperti J. Locke, Berkeley, Hume dan madzhab rasionalis di wakili oleh filosof abad ke tujuh belas seperti Descartes dan Leibniz. Kaum empiris menjadikan pengalaman sebagai dasar pengatahuannya yang berbeda dengan rasionalis menganggap bahwa pengetahuan tidak hanya bergantung pada pengalaman tetapi juga ada image ideal (ide bawaan), tetapi semua ini di bantah oleh Russell dalam logika, pengalaman yang tidak dapat membuktikan adanya pengetahuan karena segala bukti membutuhkan logika. Tetapi dalam pengalaman-pengalaman partikularlah kita mengetahui hukum umum dan tentu saja hal ini menjadi absurd untuk menyatakan ada ide bawaan dalam pengetahuan misal bayi memiliki pengetahuan akan orang dewasa. Makanya Russell menyatakan bahwa pengetahuan kita sebagian memiliki pengetahuan a priori dan pengalaman sehingga ada prinsip hukum pemikiran:

  • Hukum identitas
  • Hukum Kontradiksi
  • Hukum antara

Dengan ketiga hukum ini kita dapat membuktikan hukum pemikiran yang tidak hanya dalam pikiran tetapi juga di buktikan fakta realitasnya. Dalam hal ini yang membedakan empiris Russell dengan Locke dan Hume. Misalnya 1+1=2, bagaimana kita mengetahui angkan dua, dalam realitas ada pohon satu di sejajarkan dengan pohon satu menjadi dua pohon. Dalam hukum pemikiran angka satu dan dua adalah identitas dan kontradiksi sebab satu tidak mungkin dua tetapi antara satu dan dua memiliki relasi sehingga muncul angka dua. Jadi 1+1=2 adalah proposisi umum yang dikenal dengan a priori dan generalisasi ‘semua manusia akan mati. Proposisi umum sebagai bentuk dengan argument deduksi, tetapi induksi lebih menjamin untuk kesimpulan generalisasi.

Mungkinkah Ada Pengetahuan a Priori  

Bagaimana mungkin ada pengetahuan tentang proposisi umum yang belum kita ketahui sifat partikularnya dan disebabkan jumlah yang tidak terbatas? Atau adakah sebuah pengetahuan lepas dari pengalaman sebab sesuatu itu ada dengan adanya pengalaman. Hal ini yang akan di bahas oleh filosof Jerman Immanuel Kant tentang a priori.  Pengetahuan a priori sebelum era Kant dipahami sebagai bentuk apriori analitis, karena predikatnya di peroleh melalui analisis subjek. Menurut Kant manusia memiliki pengetahuan yang bersifat apriori bukan analitis murni yaitu bahwa hal yang berlawanan akan bertentangan dengan sendirinya seperti dalam kasus kontradiksi. Para filsuf sebelum Kant hukum kontradiksi yang menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun pada saat memiliki dan tidak memiliki sifat tertentu, hal ini dapat mendukung kebenaran a priori.

Tetapi menurut Hume yang mendahului Kant bahwa tidak ada sesuatu pun di kenal sebagai apriori tentang hubungan sebab akibat, hubungan itu bersifat sintesis. Bagi Kant merasa bahwa tidak hanya hubungan ini melainkan dalam proposisi aritmatik dan geometri yang bersifat sintesis non analitis sebab tidak ada analitis subyek akan menampilkan predikatnya. Misal 7+5=12. Ide dua belas tidak ada dalam dirinya maupun dalam penjumlahan melainkan dalam sintesis meskipun bersifat apriori.

Kant mempertanyakan bagaimana matematika murni di mungkinkan? Menurut kaum empiris murni bahwa pengetahuan matematis di ambil secara induksi. Hal ini tidak memadai menurut Kant karena pertama, validitas induktif sendiri tidak dapat membuktikan induksi. Kedua, proposisi umum matematika dapat di ketahui dengan jelas melalui pertimbangan satu contoh. Permasalahan dalam fakta, bagaimana mungkin pengetahuan semacam ini bersifat umum sedangkan pengalaman bersifat khusus? menurut Russell pendapat Kant tidak valid.

Akan tetapi yang di pertahankan Kant adalah bahwa dalam segala pengalaman kita ada dua elemen yang harus dibedakan yakni yang berkaitan dengan objek fisik (berkenaan dengan objek) dan hakekat diri kita sendiri. Bahwa objek fisik berbeda dari data indra yang diasosiasikan dan data indra merupakan hasil dari interaksi objek fisik dengan diri kita untuk di atur di dalam ruang dan waktu. Alasan utamanya adalah kita sepertinya memiliki pengetahuan a priori mengenai ruang dan waktu, sebab-akibat dan perbandingan, tetapi bukan tentang materi kasar aktual sensasi. Objek fisik ini menurut Kant diartikan sebagai ‘sesuatu di dalam dirinya’  dan secara esensial tidak dapat di ketahui yang bisa hanyalah objek dalam pengalaman yang disebut ‘fenomena’. Ini artinya fenomena yang merupakan produk dari kita dan sesuatu dalam dirinya pasti memiliki karakteristik yang berkaitan dengan kita dan sudah pasti sesuai dengan pengetahuan a priori kita. Jadi, eksistensi a priori dapat di buktikan, tetapi tidak mengetahui sesuatu di dalamnya atau sesuatu di luar objek pengalaman yang aktual.

Menurut Russell yang penting adalah membahas a priori dari metodenya sebab ada satu hal yang harus di jelaskan bahwa keyakinan kita tentang fakta-fakta yang harus sesuai dengan logika dan aritmatik. Dari sini Russell melihat Kant bahwa Kant menganggap pengetahuan apriori bersifat pasti dan aposteori bersifat dinamis, berbeda dengan Russell semuanya bersifat dinamis baik a priori maupun apoteori. Dengan alasan bagaimana kita mengetahui sesuatu yang di dalam bersifat pasti dan dalam faktanya ada kemungkinan berubah, misalnya orang yang diam itu bukan berarti tidak bergerak ia bergerak jika di relasikan dengan yang lainnya. Hal ini yang membedakan bahwa a priori  Russell bersifat empiris dan Kant bersifat a priori transenden.   

Hal ini artinya di dalam pengetahuan yang a priori  memiliki sebuah entitas yang ke-ada-annya tidak ada dalam dunia mental atau dunia fisik. Pembahasan ini sudah masuk dalam pembahasan ‘dunia universal ‘ yang memiliki sebuah ke-ada-an (being) yang berbeda dari wujud mental dan wujud materi. Ini menjadi pembahasan dalam bab 9, bahwa dalam bab ini ada dua poin, pertama membuktikan keberadaan dunia universal dan kedua, apakah dunia universal hanya berada di alam mental?

Pertama berawal dari teori lama Plato tentang ide bahwa ide Plato hanya mencocokkan dunia ide dengan alam materi dan sebaliknya I. Kant memasukkan dunia luar ke dalam. Hal ini menjadi perdebatan kaum rasionalis dan empiris tentang ide, tetapi oleh Russell di ganti dengan istilah universal, karena ide merupakan asosiasi dari banyak ide sehingga akan mengganggu ide-ide Plato.  Dalam analisa kata ganti kebanyakan kaum rasionalisme dan empiris mengabaikan kata ganti yang menunjukkan relasi antara partikular-partikular. Semua kata ganti bersifat universal dan tidak bisa di abaikan dalam pembuktian dunia universal, sebab akan fatal jika salah satu kata ganti di abaikan seperti golongan rasionalis dan empiris, seperti Spinoza dengan paham monisme dan Leibniz dengan paham monadnya. Menurut Russell jika gelisah akan adanya universal seharusnya membuktikan tidak adanya kualitas dan relasi seperti sifat putih. Kita akan mengatakan bahwa benda itu putih karena memiliki kualitas sifat putih. Hal ini di bantah oleh Berkeley dan Hume tentang ide-ide abstrak. Menurut mereka jika ingin memikirkan sifat putih kita harus membentuk sebuah citra benda putih partikular dengan mengambil benda putih lainnya sebagai relasi kemiripan. Akan tetapi Berkeley dan Hume gagal menyanggah ide-ide abstrak.

Maka menurut Russell relasi universal ini membuktikan ke-ada-an (being) dunia universal, tapi apakah universal ini hanya ada dalam mental. Pembahasan kedua ini bisa di lihat dengan proposisi misalnya ‘Jakarta berada di sebelah barat Indonesia’. Jakarta dan Indonesia merupakan dua nama yang real yang dapat di lihat dari relasi universal yakni sebelah barat. Ini artinya dunia universal tidak hanya dalam mental dan tidak dalam dunia materi tetapi memiliki ruang sendiri seperti contoh sifat putih tadi. Putih merupakan bentuk universal dan sifatnya pasti dan ada kemungkinan dinamis jika di relasikan dengan partikular. Jadi  Russell tidak menutup kemungkinan akan adanya dunia universal yang bersifat dinamis dan pasti, karena ini yang membedakan dengan Immanuel Kant.

Jadi, jelasnya Russel melihat sifat putih dari dua partikular yang sama-sama putih dan putih ini di pahami oleh pikiran bukan sifat putih yang berada di dalam pikiran melainkan di ruang tertentu. Ketika sifat putih ini masih dalam tindakan berpikir dan belum di relasikan dengan yang partikular, maka putih ini bersifat universal dan pasti. Tetapi jika putih ini sudah di relasikan pada partikular ada kemungkinan bersifat dinamis dan menjadi real. Sama halnya dengan ilmu logika atau matematika tidak bersifat pasti jika masih tergantung dengan kenyataan sebab karakter kenyataan ada kemungkinan berubah dalam relasi-relasinya. Seperti dalam konsep putih ‘universal’ hanya ada dalam pemahaman akan konsep tapi bisa real ketika di realisasikan dengan partikular-partikular dan kemungkinan universal tidak bisa di hindari dari partikular, sebab yang partikular memiliki karakteristik universal.   

Menurut Plato ide merupakan bentuk non material, kekal dan tidak berubah ia sempurnah. Ide bagi Plato adalah ide yang sudah terbentuk dan tinggal mencocokkan dengan realitasnya. Sehingga pengetahuan akan realitas bersifat menurunkan dari isi pengetahuan terhadap sesuatu yang terlihat. Berbeda dengan Russell yang berusaha menarik pengetahuan dari realitas dengan kemungkinan-kemungkinan bisa sesuai dengan pengetahuan dalam ide. Jadi pemahaman ide menurut Russel sangat berbeda dengan Plato dan Immanuel Kant, seperti penjelasan di atas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *